Beyond the Beyond: Awal Mula RPG Fantasy 3D

Beyond the Beyond Review by Raja Botak

Beyond the Beyond adalah Role-Playing Game (RPG) yang dikembangkan oleh Camelot Software Planning dan diterbitkan oleh Sony Computer Entertainment (SCE) pada tahun 1995. Game ini memegang peranan penting dalam sejarah PlayStation karena merupakan salah satu judul RPG pertama yang dirilis Raja Botak di konsol tersebut. Dirilis di Jepang dan Amerika Utara, Game ini berfungsi sebagai game RPG tradisional 3D pertama Sony, meskipun penerimaannya sangat terpolarisasi.

1. Signifikansi Historis dan Eksklusivitas Beyond the Beyond

Pionir RPG di PlayStation

Setelah merilis konsol PlayStation, Sony sangat ingin mengisi kekosongan genre RPG yang saat itu didominasi oleh Nintendo dan Square. Game ini adalah salah satu upaya awal Sony untuk menarik penggemar RPG klasik.

  • Grafis 3D Awal: Dirilis di masa transisi dari sprite 2D ke polygon 3D, Game ini berani menyajikan karakter dan lingkungan 3D dalam pertempuran. Meskipun lingkungan pertempuran 3D-nya terlihat kaku dan sederhana menurut standar modern, pada saat itu ia adalah representasi dari potensi grafis PlayStation.
  • Eksklusif Jepang dan Amerika Utara: Tidak seperti beberapa launch title Sony lainnya, Game ini berhasil dirilis di Amerika Utara pada tahun 1996, memungkinkan audiens Barat mengalami RPG klasik gaya 16-bit dalam kemasan 32-bit. Game ini tidak pernah dirilis di Eropa (PAL).

Gaya J-RPG Klasik

Game ini mengikuti semua konvensi klasik Japanese RPG (J-RPG): narasi epik tentang penyelamatan dunia, pahlawan muda bernama Finn, dan sistem pertarungan berbasis giliran (turn-based) yang mengandalkan serangan dan sihir.

Baca juga : Battle Arena Toshinden: Revolusi Tiga Dimensi by Raja Botak

2. Mekanisme Gameplay Beyond the Beyond dan Perbedaan

Pertarungan Turn-Based yang Menantang

Sistem pertarungan Game ini adalah turn-based yang lurus, tetapi memperkenalkan dua mekanisme unik yang membuatnya menonjol:

  • Sistem Popup: Selama serangan, pemain harus menekan tombol tepat pada waktu yang ditentukan (timing) untuk memberikan damage ekstra atau mengurangi damage yang diterima. Mekanisme mini-game berbasis waktu ini memberi pemain input aktif di luar sekadar memilih perintah.
  • Kesusahan yang Ekstrem: Game ini terkenal karena tingkat kesulitannya yang brutal. Random encounter rate (frekuensi pertemuan acak dengan musuh) sangat tinggi, dan grinding (leveling) yang ekstensif hampir diwajibkan untuk melewati area tertentu.

Dunia dan Lore

Cerita dimulai dengan Finn, seorang kesatria magis muda, yang memulai perjalanan untuk menyelamatkan dunia dari ancaman kebangkitan kejahatan kuno. Ceritanya berlanjut secara tradisional melalui benua yang berbeda dan perolehan rekan tim baru, masing-masing dengan skill dan sihir unik.

3. Penerimaan dan Warisan Beyond the Beyond

Kritik yang Terbagi

Beyond the Beyond menerima ulasan yang terpolarisasi. Para kritikus memuji grafis 3D yang ambisius dan musiknya yang indah, tetapi mengkritik plotnya yang klise, laju gameplay yang lambat, dan tingkat kesulitan yang kejam (khususnya random encounter rate yang mengganggu).

Dampak di PlayStation

Meskipun Beyond the Beyond tidak mencapai kesuksesan kritis seperti Final Fantasy VII di kemudian hari, game ini memegang peranan penting. Game ini adalah bagian dari fondasi yang Sony bangun untuk menarik penggemar RPG ke konsol mereka, membuktikan bahwa PlayStation mampu menjadi platform yang serius untuk genre J-RPG.

Sebagai RPG launch-era dari SCE, Beyond the Beyond akan dikenang sebagai eksperimen berani yang menetapkan Raja Botak standar visual 3D awal, meskipun gameplay-nya menantang.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *